Kopdar Historis di House of Sampoerna

Kamis kemarin, saya membuka-buka plurk dan facebook untuk refreshing di sela-sela kuliah. Saat itu, saya kebetulan melihat status Mas Dnial yang tertulis bahwa dia sedang di Surabaya (atau setidaknya itu yang saya asumsikan, melihat dari statusnya yang mengatakan dia dikasih kado buku dan dibayarin angkot pulang). Karena jarang ketemu seleb macam mas Dnial, yang katanya juga sedang ditemani mbak Nurma, saya minta buat ikut ketemuan juga.

Sekitar 10 menit kemudian, saya di-sms mas Dnial yang konon sedang mampir ke Tugu Pahlawan siang itu. Karena sedang ada kuliah, saya membalas mungkin bisa ikut yang sesi sorenya. Sore harinya mereka berencana untuk datang ke House of Sampoerna, dan janjian ketemu di café HoS. Langsung saja, selesai kuliah saya langsung menuju parkiran sepeda motor untuk menyusul kencan kopdaran di HoS. Waktu itu, saya diingatkan bahwa di HoS sedang hujan deras, tapi saya nekat berangkat ke TKP. Sampai di daerah Pacar Keling, sebuah daerah di dekat SMA komplek, hujan pun turun tanpa ampun.

Saya pun berteduh di sebuah tempat potong rambut yang kebetulan ada di dekat situ, dan karena rambut saya juga agak panjang, saya memutuskan untuk potong rambut sekalian. Setelah memesan potongan rambut yang saya sukai, saya membiarkan gunting dan sisir bergantian menari-nari di kepala saya. Potong rambut itu memangkas dana sekitar 8000 rupiah, lumayan lah, lebih murah 2000 rupiah dibanding yang ada di dekat rumah saya.:mrgreen:

Saat saya selesai potong rambut, hujannya juga sudah reda sehingga saya bisa melanjutkan perjalanan. Ini adalah kali pertama saya pergi ke House of Sampoerna, sehingga sebelum sampai ke lokasi, berulang kali saya nyasar. Awalnya saya tanya ke teman dimana lokasi HoS, dan dijawab ada di dekat Jembatan Merah Plaza (JMP), belok kiri sebelum masuk ke komplek JMP. Sesampainya di wilayah JMP, saya belok kiri tepat sebelum kompleks JMP. Tapi tetap saja yang namanya otodidak tidak semudah kalau ada orang yang sudah pernah kesana. Selain harus menembus banjir setinggi 10 cm, saya juga nyasar agak jauh sebelum kembali ke jalan yang benar setelah tanya sana-sini ke tukang becak, warung nasi, dan pedagang asongan. Singkat cerita, saya jadi bener-bener mirip orang desa yang baru pertama kali masuk ke kota.

Di café saya ketemu sama mas Dnial dan mbak Nurma, dan saya jadi bingung lagi. Saya bingung karena nama yang ada dalam menu cukup aneh dan saya tidak tahu menu yang mana yang mengandung cappuccino favorit saya. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan keputusan random, Naked Oreo pun jadi gadis minuman pilihan saya, end of the story. Sambil menunggu si Oreo telanjang tadi datang, saya ngobrol sama dnial. Ternyata, ybs sedang mengurus translation ijazah untuk keperluan kerja. Tak lama kemudian minuman datang, saya ngobrol-ngobrol sambil sesekali nyeruput si kopi Oreo. Setelah ngobrol ngalur ngidul, mulai isu mbak Nurma yang sulit banget dipotret tiap kopdaran, sampai ada telepon dari mbak Snowie, kami melanjutkan perjalanan di wilayah museum HoS.

FYI, gedung House of Sampoerna selesai dibangun pada tahun 1869 dan digunakan untuk rumah panti asuhan. Panti asuhan ini kemudian dibeli Liem Seeng Tee, yang juga salah pernah menjadi satu anak panti asuhan setelah orang tuanya meninggal, menggunakan uang hasil dari toko kelontong miliknya untuk dijadikan teater. Teater ini dibagi menjadi 2 bagian, kelas ekonomi yang terletak di bagian bawah merupakan seat yang paling murah dan konon yang mau nonton di kelas ini harus membawa koran karena kursi yang diduduki memelihara banyak kutu dan rayap. Kelas kedua adalah kelas VIP yang terletak di lantai atas. Disini, dapat terlihat jelas panggung teater yang berukuran sekitar 20×5 meter. Berbeda dari kelas ekonomi, disini kursinya cukup empuk dan terawat. Pada tahun 1913, Liem merubah gedung tersebut menjadi pabrik rokok dan mulai merintis emporium rokok keluarga Sampoerna. Ruang kelas ekonomi teater pun beralih fungsi menjadi tempat produksi rokok.

Peta House of Sampoerna [source]

Museum ini terdiri dari 2 lantai. Saat memasuki museum HoS, kita akan langsung disuguhi sebuah kolam ikan koi yang gendut-gendut, di bagian kanan terdapat kebaya dan berbagai koleksi pribadi keluarga Sampoerna sementara di bagian kiri terdapat replica toko kelontong Liem Seeng Tee serta replica ruang oven untuk memanggang cengkeh.

Inside HoS

Oven cengkeh

Masuk sedikit ke dalam, kita bisa melihat foto-foto CEO Sampoerna mulai dari awal didirikan hingga sekarang. Kemudian saat kita masuk ke bagian paling belakang, kita bisa melihat kostum dan alat musik yang dulunya digunakan oleh Sampoerna Marching Band. Disana kita juga bisa melihat peta distribusi rokok serta alat cetak yang pernah digunakan untuk mencetak bungkus rokok.

Bagian belakang museum

Sampoerna marching band

Mesin cetak rokok

Andong Dji Sam Soe

Di lantai 2, terdapat souvenir shop yang menawarkan berbagai hal yang berhubungan dengan Sampoerna maupun budaya Indonesia lainnya. Ada buku, kaos, kain batik, pin, serta miniatur alat linting rokok. Saya sempat kepincut sama salah satu model batiknya sebelum akhirnya menyadari bahwa harga yang tertulis disana tidak bisa dijangkau dompet saya yang lagi cekak. Selain itu, ada sebuah replika alat yang digunakan untuk melinting rokok yang dipajang di konter toko. Disini saya iseng-iseng mencoba memotret mbak Nurma menggunakan kamera hp, tapi gagal karena ybs lebih tanggap daripada kamera yang mengintai. :p

Alat linting rokok

Lantai dua inilah yang dulu digunakan sebagai ruang VIP saat gedung ini berupa teater. Kalau kita berkunjung ke museum ini pada siang hari, kita bisa melihat para pekerja yang sedang menggulung rokok di lantai bawah. Bahkan menurut salah satu karyawan HoS, pengunjung juga bisa mencoba melinting rokok, namun pada tahun 2009, hal pengunjung tidak bisa melakukannya lagi karena adanya perubahan kebijakan perusahaan. Menurut karyawan itu pula, pekerja rokok yang ada di ruang tersebut bisa mencapai 3000 pekerja, dan masing-masing pekerja harus menyelesaikan sekitar 2500-3000 linting rokok per hari dengan bonus tambahan jika melebihi target yang ditetapkan.

Setelah puas berjalan-jalan, kami menyempatkan foto bersama dengan minta bantuan karyawan yang tadi. Kali ini, mbak Nurma sukses terpotret, tapi karena satu dan lain hal, fotonya tidak bisa saya tampilkan. :p

Kemudian, kami makan malam di sebuah warung sate pinggir jalan di kya-kya. Satenya cukup enak, tapi yang membuat saya tertarik bukan satenya, melainkan kemasan teh hangatnya. Kenapa saya tertarik? Karena ini:

Jadi seperti yang kita lihat sodara-sodara, kemasan teh hangat ini tidak akan Anda jumpai dimanapun juga, selain di warung sate ini. Ahem, ya, kemasannya seolah mengingatkan kita pada kemasan soft drink yang sering ada di restoran-restoran, dimana sedotannya ditancapkan ke bagian tengah gelas. Setelah kenyang, kami pun berpamitan. Saya kembali menaiki sepeda motor saya, meninggalkan kedua sejoli yang berjalan beriringan membelah kehidupan malam Surabaya.

Sumber gambar & foto eksternal:

House of Sampoerna sitemap by HoS Museum Official Site
Inside HoS by Inijie.com

About Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
This entry was posted in Live Journal, My Interest and tagged , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Kopdar Historis di House of Sampoerna

  1. rukia says:

    ah saya lebih sukses menuju ke HoS berarti, sebagai pendatang yang benar-benar pendatang, saya tidak nyasar saat menuju ke HoS:mrgreen:
    btw, dirimu nggak dilarang ta motret di lantai 2 HoS? Saya dilarang. Cih. Tapi bukan rukia namanya kalo ga bisa narsis di sana😈

  2. Reinhart says:

    ah, nggak dilarang kok. Kemarin saya tanya ke karyawannya katanya boleh foto-foto. Bukan saya namanya kalo ga nekat:mrgreen:

  3. Reinhart says:

    BTW kemarin saya belum sempat masuk ke Art Gallery.😐

  4. Akiko says:

    Wah, foto-fotonya keren. dan foto terakhir itu, itu tutup gelas alumunium yang kepalanya dilepas kayaknya. ^^
    tapi saya suka yang seperti itu, at least bisa dikatakan melambangkan ke-hygienic-an.
    .
    Jadi, Nurma itu paling sulit di-foto kah? Hmmmm…:mrgreen:

  5. jensen99 says:

    […] seleb macam mas Dnial

    😯
    *noted*:mrgreen:

    btw ndu, komen saya di post terakhir kena moderasi.😉

  6. Reinhart says:

    sudah dibebaskan😀

  7. Neng Ucrit says:

    cuma ada di surabaya ya?

  8. Reinhart says:

    Sepertinya sih begitu, soalnya surabaya memang kota kelahiran merek Sampoerna:mrgreen:

  9. Zipora Maria says:

    Ijin link fotonya ya buat dishare di blog. Makasih🙂

  10. Pingback: Liburan Natal Lalu |

  11. Pingback: Liburan Natal 2012 |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s