Harga Sebuah Ide

Suatu perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi sedang mengadakan rapat tertutup. Perusahaan ini sedang dilanda kebingungan karena pendapatan hasil dari penjualan produk-produk dagangan mereka tak kunjung meningkat. Rapat itu dihadiri oleh direktur, wakil direktur, kadiv pemasaran, dan dihadiri sekitar 20 karyawan.

Salah satu karyawan, sebut saja Boonga, memiliki ide yang sangat cemerlang dan punya kemungkinan bisa menyelesaikan permasalahan yang melanda perusahaan tersebut. Sayangnya, dia tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya itu ke dalam forum, hanya mengatakannya kepada karyawan sebelahnya (sebut saja Didit).

Kemudian sang bos, pemimpin rapat, memberikan kesempatan kepada para karyawannya untuk menyampaikan ide-ide yang mereka miliki sehingga bisa membantu perusahaan itu. Boonga yang tadi memiliki ide yang sangat cemerlang merasa ragu untuk menjawabnya, dan dia lebih memilih diam di pojokan (kebetulan tempat duduk Boonga dan Didit ada di pojok).

Sementara Didit, langsung mengacungkan tangannya ketika sang bos melontarkan pertanyaan tersebut. Dia pun langsung mengatakan ide yang tadi dibisikkan Boonga kepadanya, tentu saja dengan memberi beberapa koreksi dan penambahan yang dia rasa perlu. Sesaat setelah Didit melontarkan argumennya, ruangan rapat senyap sesaat. Bukan tidak mengerti apa yang disampaikan Didit, akan tetapi karena kagum dengan apa yang diungkapkannya. Dan tepuk tangan pun langsung membahana.

Selama 6 bulan ide dari Didit tersebut diuji, dan terbukti memberikan kesuksesan kepada perusahaan tersebut. Bos yang merasa senang dengan kinerja Didit, langsung memberikan Didit kenaikan pangkat menjadi Kadiv Riset. Didit, seorang karyawan biasa, dengan latar belakang dari keluarga miskin, akhirnya mampu menjadi seorang kepala divisi dengan gaji yang terbilang cukup untuk hidup sejahtera. Sementara Boonga masih berada di bawah Didit yang tentu saja gajinya juga di bawah Didit.

Merasa kurang mendapat keadilan, Boonga pun menemui sang bos. Dia menjelaskan panjang lebar bagaimana dan darimana ide tersebut berasal. Dia mengatakan bahwa ide Didit dalam rapat yang terdahulu merupakan ide darinya. Akan tetapi, apa yang dikatakan bos tersebut?

“Siapa suruh kamu diam. Ide bukanlah milik mereka yang pertama kali memikirkannya. Ide adalah milik mereka yang mengeluarkan dan mengerjakannya.”

About Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
This entry was posted in My Thoughts and tagged , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Harga Sebuah Ide

  1. det says:

    PERTAMAXXXXXXXX!!!!

  2. det says:

    cerita luar biasa ini saya pernah dengar di mana gitu. tapi mungkin pandu yang menulis pertama di blog. jadi ini ide pandu😉

  3. Catshade says:

    Setuju banget! Saya seringkali kepikiran seuatu yang saya kira orisinil…eh, ternyata sudah ada pihak lain yang mengaplikasikannya (bedanya, saya tidak ada sangkut pautnya dengan pihak itu dan tidak memberitahukan mereka). Rasanya menurunkan semangat ketika ide jenius kita yang sudah diolah dengan susah payah ternyata sesungguhnya sudah basi…😕

  4. ma says:

    You know, then.

  5. Saya merasa seperti Boonga kadang2

    Banyak ide tapi susah diekspresikan, tapi males ngasih tau orang juga keseringannya :p

  6. Rian Xavier says:

    Yup, mengingatkan kita supaya tidak takut2 menunjukkan ide kita.

  7. Oemar Bakrie says:

    Setuju, di Indonesia kebanyakan kita kurang “out-spoken” mengeluarkan pendapat saat rapat, bahkan mahasiswa bertanya saat kuliah-pun sangat jarang (pengalaman pribadi). Tanpa bermaksud menunjuk pihak lain, harus dicari di mana letak salah-nya, pola pengasuhan (di rumah), pendidikan dasar dan menengah ???

  8. titah says:

    saya pernah betul2 ngalami hal ini saat kuliah. selama 2 jam dosen menerangkan panjang lebar, sampai whiteboard yang superlebar penuh sesak dengan berbagai materi kuliah. menjelang kuliah berakhir sang dosen menawarkan tanya-jawab, tapi tidak ada satu pun mahasiswa yang bertanya. kemudian dg berlambat-lambat bapak dosen menghapus tulisan di whiteboard sambil berulangkali menawarkan “ada yang ingin bertanya? benar-benar tidak ada yang bertanya?” diseling sesekali memberikan keterangan tambahan.

    sebetulnya di benak saya ada satu pertanyaan, menyangkut sebuah rumus yang menurut saya salah. hati bergemuruh pengin mengacungkan tangan mempertanyakan hal itu, tapi ragu, takut, gugup, benarkah rumus itu salah? jangan-jangan saya yang salah. karena takut salah, akhirnya saya diam saja sambil tolah-toleh… kuwatir kalau rumus itu memang salah terus ada teman lain yang mengoreksinya. (sirik ya? hehe…. ya gini akibatnya kalau berangkat kuliah dg otak kosong, nggak belajar dulu).

    sepertinya itu memang disengaja. whiteboard hampir bersih terhapus, tinggal tersisa rumus yang bikin penasaran tadi. bapak dosen masih terus mengundang mahasiswa yang ingin bertanya. tiba2 salah seorang teman mengacungkan tangan dan bertanya sambil mengoreksi rumus tersebut, persis seperti yang saya angankan. dan, betul! rumus itu memang salah persis seperti yang saya pikirkan tapi tidak saya keluarkan tadi! akhirnya teman yang berani itu diberi hadiah nilai A untuk tugas yang diberikan hari itu tanpa ia sendiri perlu mengerjakannya. aduh maaakk… coba aku tadi berani ngomong! nyeselnya!!!

  9. Rei。 says:

    Q didit.. Tapi pake ide sendiri rek.
    Keluarin aj pendapatnya walopun salah

  10. Jadi ingat cerita saya tentang Alif dan Eki.😛

    Kalau kata Comic Bomber…

    Konon, di angkasa luar sejumlah besar gelombang ide selalu turun berjatuhan layaknya sinar kosmik. Lalu orang-orang yang peka menangkapnya dan menuangkannya jadi satu karya. Itulah sebabnya kita bisa melihat keseragaman dalam hal fesyen atau hal lain. Dalam aktivitas kreasi, ini salah satu fenomena alam yang niscaya terjadi!

    😛

    *digampar*

    Kadang-kadang kasus begini juga terkait popularitas yang mengeluarkan idenya pertama kali, IMO.😕 Kalau yang mengeluarkan ide cuma “orang biasa”, bisa jadi ide itu lalu “dibajak” sama orang lain yang lebih “besar”.

  11. Setuju sama kutipannya Comic Bomber😆

    Di satu sisi saya rasa tetap tidak adil juga ah seperti itu. Meski apa kata bosnya ada benarnya juga. Risiko dari pilihan si Boonga untuk diam itu (dan bercerita kepada Didit). Kalau saya jadi Boonga mungkin saya akan menjauh dari Didit (males ribut, menjauh aja).

    …dan kata xaliber benar juga. Kadang ‘muka’ juga berpengaruh. Sebuah tren misalnya, si A iseng suatu hari ke kampus menggunakan ‘style’ ini. Masih dianggap biasa saja. Suatu hari ada ‘selebritas’ yang melihat dan ‘meniru’ gaya si A. Dia tampil di TV dan sejak saat itu ‘style’ si A yang ‘bukan siapa-siapa’ jadi terkenal. Mungkin si A memang tidak berpikir itu akan ‘booming’ tapi sama kasusnya dengan si Boonga yg berpikir bahwa idenya itu tidak bagus kan?😕

    *pura-pura mikir*
    *pusing*

  12. talking-talking..
    Boonga apaan sih? Masih saudara sama Bunga korban pemerkosaan itu?

    *ditendang*

  13. cK says:

    pesan moral: silence is not always golden…🙄

  14. Reina says:

    Setuju ama Xaliber…
    Yah, emang penyesalan selalu muncul belakangan sih ^^

  15. @ det

    PERTAMAXXXXXXXX!!!!

    Sudah habis. Yang ada tinggal premium.

    Mau?

    cerita luar biasa ini saya pernah dengar di mana gitu. tapi mungkin pandu yang menulis pertama di blog. jadi ini ide pandu😉

    Begitukah? Kalau demikian terima kasih…🙂

    @ Catshade
    Sebenarnya, ide tidak terbatas pada lingkup sudah dilakukan orang lain atau tidak.

    Misalkan dalam sebuah komunitas, mereka hendak pergi berkemah. Semua anggota membawa peralatan berkemah, lengkap dengan peralatan memasak. Tapi, ada satu anggota yang membawa perlengkapan komunikasi seperti radio, walkie-talkie, atau semacamnya. Mungkin anggota lain berpikir bahwa itu tidak perlu, tetapi ketika terjadi sebuah musibah, maka barang tersebut bisa saja menjadi penyelamat hidup mereka.

    Rasanya menurunkan semangat ketika ide jenius kita yang sudah diolah dengan susah payah ternyata sesungguhnya sudah basi…😕

    Kalau saya malah beranggapan, dengan sudah dipakainya ide kita oleh orang lain, maka saya harus bisa menemukan ide lain yang, setidaknya, sedikit lebih baik dari ide orang lain tersebut.🙂

    @ ma
    Yeah, finally.😐

    @ Adriano Minami
    Jangan khawatir, masih ada Boonga-Boonga lainnya.:mrgreen:

    @ Rian Xavier
    Benar sekali.. ^^

    @ Raden Mas Angki
    Mangan opo?

    @ Oemar Bakrie
    Sebetulnya saya merasa miris ketika saya memperhatikan bahwa sesi pertanyaan cukup jarang dimanfaatkan oleh peserta seminar maupun mahasiswa untuk bertanya materi yang kurang mereka pahami.

    Tanpa bermaksud menunjuk pihak lain, harus dicari di mana letak salah-nya, pola pengasuhan (di rumah), pendidikan dasar dan menengah ???

    Kalau saya berpendapat ada pada diri kita masing-masing. Kita sejak kecil sudah ditanamkan untuk bertanya jika kita kurang paham oleh orang tua, guru TK, guru SD, dan yang lainnya. Tapi karena ketakutan kita yang berlebihan, misalnya takut dikira bodoh atau semacamnya jika terlalu banyak bertanya, membuat kita justru semakin membatasi kemampuan diri sendiri.🙂

    @ titah
    Ah… Saya juga pernah mengalami hal seperti itu. Tapi untung saja tidak ada hadiah nilainya.:mrgreen:

    @ Rei。
    Selamat kalau begitu. Terus pertahankan dan tingkatkan keberaniannya untuk bicara, ya?

    @ Xaliber von Reginhild
    Nah, kalau begitu, kita bisa menggugat “orang besar” tersebut dengan mengujinya dengan beberapa pertanyaan seputar ide tersebut dan hanya kita yang tahu jawabannya. Kalau sukses, kita runtuhkan ke-“besar”-annya.

    @ Lemon S. Sile

    Risiko dari pilihan si Boonga untuk diam itu (dan bercerita kepada Didit). Kalau saya jadi Boonga mungkin saya akan menjauh dari Didit (males ribut, menjauh aja).

    Tapi, kalau tidak dia ceritakan, bisa-bisa masalah tersebut tidak menemukan solusi.😐

    Suatu hari ada ’selebritas’ yang melihat dan ‘meniru’ gaya si A. Dia tampil di TV dan sejak saat itu ’style’ si A yang ‘bukan siapa-siapa’ jadi terkenal.

    Kok saya jadi teringat salah satu kartun favorit saya, dengan tokoh utama makhluk kotak berwarna kuning?

    Mungkin si A memang tidak berpikir itu akan ‘booming’ tapi sama kasusnya dengan si Boonga yg berpikir bahwa idenya itu tidak bagus kan?😕

    Ya itulah, tidak ada salahnya mencoba, kan?😉

    talking-talking..
    Boonga apaan sih? Masih saudara sama Bunga korban pemerkosaan itu?

    Mungkin.😛

    Padahal, aslinya saya benar-benar pingin pakai nama Bunga. Biar lebih menekankan pada ketidakadilan yang memihak sang Bunga.😈

    @ cK
    Indeed.
    Silence is worse; all truths that are kept silent becomes poisonous.

    @ Reina
    Kalau kata King Marcell di game Shining Force:

    Regret is a powerful force.

  16. Bukans4rjana says:

    Kalo saya booooooooonga… malu, benar kata bos, siapa suruh diam, siapa suruh bagi ide dgan orang lain,siapa suruh…. siapa suruh…. teman maju langsung ngiri dehhh… tipe orang Indonesia, karena papan sehelai orang bisa nyebrang ngomongnya dibikinin jembatan……

    Hidup Didit,…. betul nak orang miskin nggak selamanya susah, dan jangn lupa terima kasih ama Booonga dengan sebungkus rokok saya rasa cukuplah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s