Makna Blog yang Sebenarnya

Note: Post yang agak panjang, tapi jangan fast-reading. Ada yang ingin saya ungkapkan di sini.

Dunia semakin maju, teknologi semakin berkembang, kemampuan masyarakat pun meningkat. Mereka yang dulu tidak mengenal internet jadi melek, dan bisa menggunakan internet. Tentunya ini sebuah kemajuan yang patut disyukuri. Bukti bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai bangkit dari keterpurukan.

Blog, ya, masyarakat Indonesia kini sangat tergila-gila dengan media penulisan yang satu ini. Itu bisa dilihat dari banyaknya blog-blog berbahasa Indonesia yang simpang siur di blog-o-sphere. Kreatif, ya, itulah tujuan blog pada awalnya, agar setiap orang yang menggunakannya menjadi lebih kreatif dan teknik menulisnya menjadi lebih baik. Sayangnya, banyak orang yang tidak tahu apa dan mengapa blog itu ada. Jadi, apa sebenarnya blog itu?

Blog, menurut aplikasi kamus WordWeb di PC saya, adalah sebagai berikut:

Noun: blog

  • A shared on-line journal where people can post diary entries about their personal experiences and hobbies

Ya, “personal experiences and hobbies” adalah kata kunci yang harus kita tekankan di sini. Tulisan-tulisan yang ada di blog seharusnya berupa pengalaman pribadi dan beberapa hobi mereka. Misalnya blog ini yang membahas tentang pengalaman dan beberapa hobi saya: Suikoden, sepak bola, dan anime. Lalu blog Xaliber yang berisi tentang ketertarikan beliau dengan yang namanya perang, Nazi, dan segala hal yang berbau militeristik. Magister of Chaos yang memiliki ketertarikan hampir sama dengan Xaliber, tapi membuat beberapa post tentang strategi perang.

Bang Gun yang blognya berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan Chinese, puisi, dan seni. Kopral Geddoe yang blognya berisi tentang sepak bola, agama, Teori Evolusi, dan artwork. Mas Sora yang mengisi blognya dengan sepak bola, hal yang berbau Arsenal, bermacam-macam tutorial Photoshop dan Nihongo. Mbak Chika yang mayoritas tulisan di blognya berisi curhatan atau pengalaman beliau. Pak Fertob yang tulisannya kental beraroma filsafat, dan berbagai istilah yang berkaitan dengan psikologi, dan sepertinya punya ketertarikan dengan game juga.

Sedangkan jika dikaitkan dengan journal, maka:

Noun: journal – jurn(u)l

  1. A daily written record of (usually personal) experiences and observations.
  2. A periodical dedicated to a particular subject.
  3. A ledger in which transactions have been recorded as they occurred.
  4. A record book as a physical object.

Ternyata journal pun berkaitan dengan berbagai macam pengalaman, penelitian, dan catatan ilmiah. Dengan begini, blog pun seharusnya memiliki ciri-ciri dan sifat seperti yang saya sebutkan di atas.

Bagaimana dengan blogblog yang menyebarkan lowongan pekerjaan itu? Apakah itu pengalaman mereka? Apakah itu hobi mereka? Kalau hobi, maka itu adalah hobi yang aneh, karena mereka seolah-olah mematikan secara tidak langsung situs resmi pembuka lowongan itu. Blog bukanlah media penyebaran lowongan kerja seperti itu. Dan kalau memang blog digunakan untuk itu, lebih baik tidak usah ada situs resmi untuk setiap instansi pemerintah atau perusahaan. Gunakan saja layanan blog.😉

Dan para penyebar kunci jawaban SNMPTN hari pertama itu. Saya tahu maksud mereka baik agar siswa bisa mempersiapkan diri menghadapi SNMPTN hari kedua. Tapi menyebarkan lewat blog? Saya rasa tidak bijak. Dengan diterbitkannya post semacam itu, siswa akan merasa bahwa Anda mempunyai kunci jawabannya sehingga mereka berpikir Anda pasti punya kunci untuk hari kedua. Tapi daripada hanya memberikan kunci, bukankah lebih baik memberikan penjabarannya sekalian? Tidakkah mereka sadar efek dari post mereka justru melatih bangsa ini menjadi bangsa yang malas dan tidak mau berusaha? Lihat saja, banyak komentar yang meminta kunci jawaban untuk hari kedua, bahkan ada yang sampai memberikan nomor handphone. Konyol. Tidakkah mereka sadar bahaya memamerkan nomor HP mereka di tempat umum? Dan apakah mereka sudah tidak punya semangat juang sehingga sampai mengemis kunci jawaban pada orang yang (mungkin) belum dikenal?

Blog juga bukan sebagai (pinjem istilahnya Xaliber) harddisk online, dimana kita bisa mengumpulkan artikel maupun berita yang kita sukai dengan cara menjiplaknya dari situs yang bersangkutan. Kita mungkin mendapatkan trafik dengan cara seperti itu, tapi tahukah kita bahwa tindakan itu sama saja dengan tidak mengakui tulisan orang lain? Orang tersebut, dalam hal ini wartawan, sudah berkeringat mencari berita lalu menulisnya, dan kita seenaknya menjiplak tulisan itu dan mengakui itu tulisan kita?😕

Lalu blog-blog mesum itu, apa sebenarnya tujuan mereka? Merusak moral bangsa? Menghancurkan generasi penerus? Apa itu juga termasuk hobi mereka, yang sering membaca cerita semacam itu? Jika memang mereka suka menulis tulisan mesum, kenapa tidak bergabung dengan forum-forum yang menyediakan fasilitas itu? Atau jangan-jangan ini merupakan manifestasi pengalaman mereka yang tidak kesampaian?😆

Sekarang mari kita lihat blog-blog dari luar negeri, kita ambil saja yang berbahasa Inggris. Blog “Watts up with that?”, ditulis oleh seseorang yang bekerja dan memiliki hobi di bidang cuaca, mengambil tema tentang global warming dan alternative energy, yang diolah menurut sudut pandangnya sendiri. Seperti dinyatakan dalam about page-nya:

While I have a skeptical view of certain issues, I consider myself “green” in many ways, and I promote the idea of energy savings and alternate energy generation.

Blog milik Miss Elizabeth Wong, berisi tentang pengalaman beliau, dan dalam about page menyatakan begini:

This blog is primarily an archival site of writings and photographs, with the occasional notes-to-self to clear out some thoughts.

Di blog Young Guns ada tulisan tentang skuad muda Arsenal dan beberapa analisanya. Nah, Anda lihat? Nothing such porn, job vacancy, or else. Mereka benar-benar paham apa tujuan adanya layanan blog.

Ironisnya, banyak masyarakat Indonesia berpendapat bahwa bad news is a good news. Mereka ikut menyebarkan rumor-rumor tak sedap seperti foto sure™ artis atau oknum pemerintah, yang bisa menjelekkan nama baik mereka. Padahal mereka sendiri tidak punya bukti yang kuat seperti darimana mereka dapat info itu dan apa alasan mereka ikut menuduh. Kalau Anda bilang bahwa sudah ada fotonya, itu tidak bisa jadi bukti yang otentik. Ini zaman teknologi, kawan, sudah banyak software yang bisa digunakan untuk memanipulasi foto lalu di upload di internet.😉

Jujur, saya sendiri kurang suka blog disalahgunakan seperti itu. IMO, kalau memang ingin membuat blog, cari dulu makna blog itu apa. Jangan seenaknya membuat blog dan memuat tulisan (maaf) sampah seperti itu. Saya masih cenderung kepada blog yang memuat tulisan ilmiah, lirik lagu, sampai tentang curhat. Pokoknya yang bisa berdiskusi dengan nyaman. Setidaknya itu lebih menunjukkan fungsi blog.

Ah, tak terasa saya menulis sudah 2,5 halaman Ms. Word. Nah, sekarang saya kembalikan kepada Anda. Apakah ketiga kategori blog yang saya sebut itu layak disebut blog?😀

About Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
This entry was posted in My Interest, My Thoughts and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

52 Responses to Makna Blog yang Sebenarnya

  1. Wah, udah lama nggak nulis post yang panjang…:mrgreen:

  2. cK says:

    Apakah ketiga kategori blog yang saya sebut itu layak disebut blog?😀

    ketiga blog yang mana ya? yang bahasa inggris atau indonesia?😕

  3. Yang Indonesia. Mulai lowongan pekerjaan sampai blog mesum.

  4. itikkecil says:

    Apakah ketiga kategori blog yang saya sebut itu layak disebut blog?

    kalau berdasarkan definisi, ya jelas gak masuklah…
    tapi masalahnya, seperti di postingan kemarin itu budaya instan yang jadi penyebabnya. itulah yang terjadi kalau yang dikejar itu cuma hits popularitas semu.

  5. dnial says:

    To blog or not to blog…
    That is the question!

    To junk or not to junk
    That is the question!

    Belajar butuh proses… pendewasaan komunitas butuh proses…
    Masakan kita langsung protes kalau anak TK nggak bisa kerjasama dengan baik? kita harus paham, penyampahan adalah proses.

    Dulu awalnya kita juga nyampah to… (kita, elo kali)

    Mungkin awalnya lowongan kerjaan, cerita mesum dll…
    Tapi mungkin setelah itu mereka belajar (semoga), dan mulai ngeblog ke arah yang benar. Sesuai bimbingan para suhu yang di sini.

    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.
    Semoga.

  6. cak-cuk says:

    ndu..ndu… nantang kok nang blog, duel ngono lo… smack down bila perlu… tak ladeni…., sekali lagi blogmu iku menjemukan, mboseni, nggilani pisan, masih mendingan blogku bisa membangkitkan gairah, menarik bukan, he… he… he….
    Jangan lupa pastikan ada cak-cuk disini, cak-cuk bukan blogger, bukan hacker, bukan reza, pokoknya bukan semuanya deh…..

  7. Pingback: Anime Home Planet Blog » Blog Archive » Makna Blog yang Sebenarnya

  8. ManusiaSuper says:

    Mas ini yang punya hak cipta blog ya?:mrgreen:

  9. aRuL says:

    makin hari blog makin berkembang, baik dari fungsi maupun fasilitasnya.
    wajar mungkin terjadi hal yang demikian.
    tapi kalo emang susah, saatnya kita beri tantangan kepada pengelola search engine menggunakan engine yang betul-betul qualified dalam menemukan hasil searching, tidak sekedar nyasar ke blog, apalagi blog yang hanya mencari trefik….😀

  10. Eru says:

    ** mode ngaco ngalor ngidul ON **

    Hmm.. yah kalo secara definisi ga masuk sih,
    lebih kaya papan pengumuman😀 cuma somehow dia nebeng di engine blog

    jadi yaaa… somehow banyak yang akses karena isinya ‘gimanaa gitu’… dan yaa.. memang kadang ada yang memberi image buruk… tapi thank God kan uda mulai banyak masyarakat yang aware perbedaan Blog2 tadi sama Blog2 “normal”?

    (someday Indonesian people will be educated enough to tell the differences.. we are close to it.. but not now :D)

    from my point of view Blog = ‘People-nya’, beda2.. unik.. bebas.. ngeres.. sulit.. mudah.. manusiawi banget deh, what can we do about those blog?

    ‘keep writing of-course’😀

  11. Mungkin orang-orang itu masih melihat blog sebagai alat yang mudah untuk menyebarkan informasi?😛 Jadi tanpa menyadari fungsinya blog sebagai tempat beropini/bercerita, malah dipakai buat kayak begitu. Hitung-hitung ngga perlu repot bikin website. ^^;

    ….atau cuma sebagai hard disk online itu.😛

  12. mama says:

    enggak beda dengan dunia nyata, di dunia maya juga ada berbagai karakter manusia, ada yang baik2, ada yang ngeres, ada yang ngenes, enggak sedikit yang kriminal. blog-blog luar negri juga banyakkk yang saru atau malah jahat.

    berpikir terbuka & positif lebih baik, belajar bersikap demokratis juga penting, yang intinya menghargai hak & pendapat orang lain, walaupun kita tidak sependapat… kita tidak bisa mendikte & mengatur seluruh dunia (baca: blogosphere), anakku. yang paling mungkin cuma mengatur diri sendiri, untuk enggak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri, orang lain, sebaliknya justru memberi manfaat sebanyak-banyaknya pada orang lain.

    lantas, di mana salahnya orang bagi-bagi info lowongan pekerjaan? atau kunci SNMPTN? it’s okay kok…

    PS:
    di dunia nyata banyak orang yang suka nyampah sembarangan, banyak juga orang yang cari makan dengan memulung & mendaur ulang sampah orang lain. what do u think? what do u do?
    well, it’s your process guy…

  13. rei_psycho d' st★r says:

    Lama tak jumpa mas..
    Sutralah,mas ndu jadi presiden aj.
    Cocok kok

    Q sih sbnya pgen ngepost hal2 yg berguna gt.tp tdk semudah yg q kira.
    Curhat aj uda seneng kok

  14. alex® says:

    Tulisan-tulisan yang ada di blog seharusnya berupa pengalaman pribadi dan beberapa hobi mereka.

    Ha… Harus?😕

    Di blog Young Guns ada tulisan tentang skuad muda Arsenal dan beberapa analisanya. Nah, Anda lihat? Nothing such porn, job vacancy, or else. Mereka benar-benar paham apa tujuan adanya layanan blog.

    Sampelnya terlalu sedikit utk merepresentasikan fakta sebenarnya. Siapa bilang blog luar negeri tidak memiliki unsur porno, job vacancy, atau apapun yang konon merusak citra ngeblog? Saya tidak yakin bahwa mereka begitu beradabnya utk memahami apa tujuan adanya layanan ngeblog. Tidak mereka saja, jika sampelnya demikian.

    Saya bukan sekali-dua menemukan blog yang porno, jorok, rasis, fasis, dan penuh dengan bullshits dari luar negeri. Sama saja. Tidak ada kawasan blogger yang begitu madaninya utk disanjung lho🙂

    Intinya sih, bagi saya : Dalam nge-blog tidak ada keharusan. Di internet siapapun bisa jadi anjing atau jadi kucing, jadi iblis atau jadi malaikat, jadi bijak atau jadi bangsat. Karena kontrol pertama ada pada keyboard si blogger, bukan pada zona mana dia berada.

    Lagian, siapa yang bikin standarisasi ngeblog? Kalaupun ada, akan saya pertanyakan otoritasnya sebagai apa. Tidak kamus terhebat, ensiklopedia tervalid atau bahkan blogger terseleb sekalipun. Ndak ada yang saya akan patuhi😆

    Satu-satunya aturan ngeblog yang saya pahami cuma : I think therefore I blog. Selain dari itu… nothing. Kalo ada seseorang yang ngotot utk bikin keharusan ngeblog bagi saya, seseorang itu boleh cium jempol kaki saya duluan😆😆

    *just my 2 cents*😉

  15. Dins Allheal says:

    Eh emang iya. Nulis di blog gak seribet bikin web.
    Ada loh sekolahan yang make blog seakan berfungsi sebagai web sekolahnya.
    SMP apa lah gitu di Jember. Dan mungkin masi banyak lagi.

  16. ndöp says:

    Horeee.. brati blog saya lolos seleksi sebagai blog sejati!
    blog yang sebenarnya…

  17. Catshade says:

    Saya setuju kalau dibilang tidak ada otoritas dalam ngeblog (which is what makes all the discussions seem futile and useless karena gak ada tindak lanjutnya), tapi saya juga nggak setuju kalau itu diartikan kita boleh ngeblog sebebas-bebasnya, suka-suka kita.

    Bagi saya, blog (yang bukan dikunci secara privat) itu adalah ranah publik, bukan ranah pribadi. Blog punya kekuatan potensial yang besar untuk mengubah masyarakat, dan karena itu pulalah kita juga punya tanggung jawab yang besar terhadap seluruh calon pembaca blog kita.

    Nah, berhubung tidak ada otoritas dalam ngeblog, lalu siapa yang menentukan tanggung jawab seorang blogger? Dalam hal ini, saya mengamini apa kata Goenawan Mohamad ketika ditanya mengenai siapa yang menentukan pesan moral dalam sebuah karya sastra, “hati nuranimu sendiri.” Jadi ya kita bisa melihat sendiri siapa blogger yang nggak punya hati nurani…

    @pandu:
    Saya rasa orang yang ngeblog soal lowongan kerja dan mesum-mesum itu tidak bermaksud untuk memutilasi makna blog. They’re just too cheap to make a website from scratch and host it on their own😛 Kenapa harus capek dan bayar kalau ada yang mudah, gratis, dan sudah di-SEO-kan?😉

  18. t4rum4 says:

    Note: komentar yang panjang, tapi jangan fast-reading. Ada yang ingin saya ungkapkan di sini.

    BEGIN…

    Waduh waduh.. Penggunaan Blog semakin tertahan. layaknya kreatifitas yang tertahan. pembelaan dikit ah.
    =============

    Dunia semakin maju, teknologi semakin berkembang, kemampuan masyarakat pun meningkat.

    =============
    Pemikiran manusia pun akan menjadi lebih kompleks dalam bidang emosional. Dan anda tidak bisa menerka apa yang dipikirkan oleh saya ataupun orang lain.
    =============

    Ternyata journal pun berkaitan dengan berbagai macam pengalaman, penelitian, dan catatan ilmiah. Dengan begini, blog pun seharusnya memiliki ciri-ciri dan sifat seperti yang saya sebutkan di atas.

    =============
    Blog merupakan tulisan apa yang blogger lihat, rasakan, ketahui dan pahami. Kalau saya merasakan Ujian SNMPTN. Saya berhak untuk menuliskan tulisan tersebut. Jika saya mengetahui kunci jawaban SNMPTN, saya jelas2 berhak menuliskan tulisan tersebut. Yang paling buruk adalah TIDAK MERASAKAN TAPI MENULISKAN.
    =============

    Tapi daripada hanya memberikan kunci, bukankah lebih baik memberikan penjabarannya sekalian?

    Ganesha Operation sudah bekerja sama dengan surat kabar Pikiran Rakyat. Jadi, sangat tidak mungkin IZI untuk menerbitkan teknik yang sama dan daerah yang sama pula.
    =============

    Dengan diterbitkannya post semacam itu, siswa akan merasa bahwa Anda mempunyai kunci jawabannya sehingga mereka berpikir Anda pasti punya kunci untuk hari kedua.

    =============
    Yah memang seperti itulah untuk memprediksikan hasil SNMPTN. Anda pikir untuk apa gunanya kunci jawaban tersebut? Untuk memberikan harapan untuk hari kedua? BETUL, memberikan harapan untuk hari kedua. Tapi yang salah dimengerti adalah HARAPANnya. Dengan memberikan kunci jawaban hari pertama. Para peserta berhak untuk mencek jawabannya untuk mempersiapkan diri untuk hari keduanya. Misal, Hari pertama score saya (B*4-S) 200. Untuk masuk ke PTN X, saya butuh skor total 500. Jadi, untuk hari kedua saya menargetkan skor ku 300.. Jadi, memang itulah tujuannya. INGAT, handphone dalam keadaan mati dalam ujian.
    =============
    Dan masih banyak lagi. Nunggu dijawab dulu ama Bozz Pandu.😀
    Anda sepertinya terpancing oleh kasus Kunci jawaban SNMPTN kemaren. Yang penting adalah kesenangan blogger sendiri atas apa yang dia tulis.

  19. Catshade says:

    @beberapa komentator:
    Saya rasa Pandu tidak bermaksud membatasi kreativitas ngeblog atau mendikte bagaimana seharusnya anda ngeblog.

    Umpamanya: Kita rasanya berhak-berhak saja meminta para filmmaker, sastrawan, musisi, atau pekerja media untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hasil karya mereka. Kita tahu dan tampaknya punya standar (standar teknis yang tidak terkait dengan selera) akan apa film yang bagus/jelek, musik yang bagus/jelek, novel yang bagus/jelek, atau koran yang berbobot versus koran kuning.

    Kenapa kita merasa berhak menuntut hal itu, toh itu kan kreativitas suka-suka mereka (dan sebenarnya kita tidak punya otoritas dan kompetensi untuk mengkritik mereka)? Karena kita sebagai konsumen sadar karya mereka punya potensi yang lebih dari sekedar hiburan. Kita sadar kalau karya mereka bisa digunakan untuk ikut ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’, dan karena itu kita menuntut tanggung jawab mereka untuk melakukan hal itu juga selain bikin karya untuk kepuasan diri sendiri atau uang yang banyak.

    Dengan analogi di atas, saya rasa siapapun yang menganggap blog punya potensi ‘ikut mencerdaskan kehidupan bangsa’ (dan bukan sekedar ‘kepuasan blogger sendiri’ atau ‘mendapat uang via adsense’) berhak mengkritik kondisi blogosfir Indonesia saat ini. Apakah blog lowongan kerja atau kunci jawaban SNMPTN dapat memenuhi potensi itu? Semuanya bisa didiskusikan lagi dengan kepala dingin. Tapi jangan anggap kritik dan perdebatan sebagai bentuk pengekangan dan upaya kontrol; justru hal itu berawal dari niat baik dan positif untuk memajukan blogosfir Indonesia.

    Btw, sejak kapan ya saya jadi pembelanya Pandu?😕

  20. @ semua
    Sebentar… sebentar… ada yang perlu diklarifikasi disini.
    1. Saya tidak membatasi orang untuk ngeblog, saya hanya mencoba mengklasifikasikan blog jika dilihat sesuai dengan pengertian di kamus itu.
    2. Saya ngeblog juga ingin menuliskan beberapa catatan saya dan berbagi apapun seperti lirik lagu, artikel Suikoden yang sudah saya terjemahkan secara serampangan, wallpaper, dll.
    3. Saya juga baru tahu kalau blog itu definisinya seperti itu.😛
    4. Saya tidak menerapkan standar apapun dalam bloging, saya hanya berpendapat.
    5. Tolong lihat tag-nya, disitu ada tag BOTD. Jadi yang saya kritik (saat ini) hanyalah mereka yang ngeblog pakai WP.🙂
    @ itikkecil

    tapi masalahnya, seperti di postingan kemarin itu budaya instan yang jadi penyebabnya. itulah yang terjadi kalau yang dikejar itu cuma hits popularitas semu.

    Menurut pengamatan saya, mereka hanya menulis apa yang sedang hangat dibicarakan. Seperti beberapa post tentang Gaby, Foto sure™, dan masih banyak lagi.

    Saya jadi ingin tahu, bagaimana kalau mereka sudah kehabisan berita, ya?:mrgreen:
    @ dnial

    Belajar butuh proses… pendewasaan komunitas butuh proses…

    Memang. Saya menyadari hal itu dengan baik.

    Masakan kita langsung protes kalau anak TK nggak bisa kerjasama dengan baik? kita harus paham, penyampahan adalah proses.

    Yah, benar. Tapi saya juga ingin mengingatkan bahwa beberapa tulisan mereka ada yang mengambil dari tempat lain juga. Dan saya heran kenapa blog-blog yang asal comot itu justru masuk peringkat atas BOTD. ^^;

    Mungkin awalnya lowongan kerjaan, cerita mesum dll…
    Tapi mungkin setelah itu mereka belajar (semoga), dan mulai ngeblog ke arah yang benar. Sesuai bimbingan para suhu yang di sini.

    Semoga… semoga…
    Tapi suhu-nya bukan saya kan? Saya terlalu kecil untuk disebut suhu.:mrgreen:
    @ cak-cuk

    ndu..ndu… nantang kok nang blog, duel ngono lo… smack down bila perlu… tak ladeni….

    Tidak, terima kasih. Saya hanya ingin adu skill menulis dengan Anda, karena Anda punya blog-yang-katanya-hebat.

    sekali lagi blogmu iku menjemukan, mboseni, nggilani pisan, masih mendingan blogku bisa membangkitkan gairah, menarik bukan, he… he… he….

    Ho… jadi definisi “nggilani” sudah berubah ya, sekarang?Terserahlah, itu anggapan Anda. Setidaknya tulisan-tulisan saya masih jauh lebih baik daripada tulisan-tulisan Anda yang merusak moral itu.😉

    BTW, Anda tahu kenapa komentar Anda dimoderasi? Itu karena saya punya aturan berkomentar disini. Semua yang berkomentar disini dilarang menuliskan kata-kata yang vulgar dan yang lainnya. Saya malah sudah membuat blacklist kata-kata yang terlalu vulgar agar langsung dianggap SPAM.

    Jadi maaf kalau komentar Anda saya edit sedikit bagian vulgar-nya.🙂
    @ ManusiaSuper
    Ohoho… bukan. Saya hanya ingin melihat blog sesuai definisi yang ada.😛
    @ aRuL
    Hm… menantang pengelola search engine agar tidak salah tempat? Kayaknya sulit tuh. ^^a
    @ Eru

    jadi yaaa… somehow banyak yang akses karena isinya ‘gimanaa gitu’… dan yaa.. memang kadang ada yang memberi image buruk… tapi thank God kan uda mulai banyak masyarakat yang aware perbedaan Blog2 tadi sama Blog2 “normal”?

    Kalau menurut Hoek, itu blog-blog yang mengandung HAPK (High-Attention Paying Keywords).

    Yah, semoga masyarakat bisa membedakan mana yang lebih baik, bukan hanya menuruti hasrat sesaat.

    from my point of view Blog = ‘People-nya’, beda2.. unik.. bebas.. ngeres.. sulit.. mudah.. manusiawi banget deh,

    Ah, saya sudah sering mengatakan bahwa setiap blog itu unik. Tapi, seperti di dunia nyata, ada aturan tak tertulis di dunia maya, kan?:mrgreen:
    @ Xaliber von Reginhild

    Mungkin orang-orang itu masih melihat blog sebagai alat yang mudah untuk menyebarkan informasi?😛 Jadi tanpa menyadari fungsinya blog sebagai tempat beropini/bercerita, malah dipakai buat kayak begitu. Hitung-hitung ngga perlu repot bikin website. ^^;

    Mungkin. Dan dengan biaya sangat murah.
    @ mama

    lantas, di mana salahnya orang bagi-bagi info lowongan pekerjaan? atau kunci SNMPTN? it’s okay kok…

    Lowongan pekerjaan, mungkin bermanfaat bagi orang lain, tapi pemilik blog itu hanya ingin mengeruk trafik sebanyak-banyaknya dari kebingungan orang yang ingin mencari pekerjaan. Lihat saja, di blog-blog tersebut ada beberapa komentar yang menanyakan bagaimana kalau mereka kondisinya begini atau begitu, tapi sejauh yang saya lihat, tidak ada yang dibalas.

    Lalu dengan jawaban SNMPTN. Mungkin kuni hari pertama diberikan setelah hari pertama selesai, yaitu pukul 11 siang. Bagi yang sudah tahu bahwa itu untuk membuat strategi hari kedua sih wajar-wajar saja. Tapi saya hanya kasihan dengan beberapa siswa yang menganggap mereka mempunyai jawaban hari kedua, dan siswa itu memintanya dengan memberikan nomor hape mereka, sebelum tes hari kedua. Bagaimana kalau nomor hape mereka dicatat dan digunakan sebagai sasaran penipuan?
    @ rei_psycho d’ st★r
    Curhat udah bagus, kok. Asal ditulis dengan bahasa yang menarik.
    @ alex®

    Ha… Harus?😕

    Tidak harus, seharusnya. Kalau dilanggar, akibatnya ditanggung yang melanggar. Baik itu akibat baik maupun buruk.:mrgreen:

    Sampelnya terlalu sedikit utk merepresentasikan fakta sebenarnya. Siapa bilang blog luar negeri tidak memiliki unsur porno, job vacancy, atau apapun yang konon merusak citra ngeblog? Saya tidak yakin bahwa mereka begitu beradabnya utk memahami apa tujuan adanya layanan ngeblog. Tidak mereka saja, jika sampelnya demikian.

    Saya bukan sekali-dua menemukan blog yang porno, jorok, rasis, fasis, dan penuh dengan bullshits dari luar negeri. Sama saja. Tidak ada kawasan blogger yang begitu madaninya utk disanjung lho🙂

    Ya, saya tahu. Tapi mayoritas mereka melakukannya di hosting mereka sendiri, bukan di hosting gratis semacam WordPress[dot]com, Blogspot, dan yang lainnya. Ingat, bahwa kebanyakan blogger Indonesia jarang membaca ToS di hosting gratisan (termasuk saya), di ToS WordPress misalnya.🙂

    Lagian, siapa yang bikin standarisasi ngeblog? Kalaupun ada, akan saya pertanyakan otoritasnya sebagai apa. Tidak kamus terhebat, ensiklopedia tervalid atau bahkan blogger terseleb sekalipun. Ndak ada yang saya akan patuhi😆

    Saya nggak bikin standar, lho. Saya cuman melihat dari sudut pandang definisi yang ada. Saya sendiri juga kaget kalau definisinya seperti itu.

    Saya sendiri sama sekali nggak punya pengalaman maupun hobi yang berkaitan dengan, misalnya, tanaman pemakan serangga yang saya tulis waktu pertama kali ngeblog atau tentang siapa yang sebenarnya menemukan benua Australia. Murni hanya ingin berbagi.😛
    @ Dins Allheal

    Eh emang iya. Nulis di blog gak seribet bikin web.
    Ada loh sekolahan yang make blog seakan berfungsi sebagai web sekolahnya.

    Kalau sekolah lain soal. Saya yakin hal-hal yang mereka tulis akan berbau edukatif dan mendidik.
    @ ndöp
    Selamat… selamat… ^^
    @ Catshade (1)

    Bagi saya, blog (yang bukan dikunci secara privat) itu adalah ranah publik, bukan ranah pribadi. Blog punya kekuatan potensial yang besar untuk mengubah masyarakat, dan karena itu pulalah kita juga punya tanggung jawab yang besar terhadap seluruh calon pembaca blog kita.

    Saya setuju dengan poin ini. IMO, orang yang ingin membuat blog harus bisa mempertanggungjawabkan seluruh tulisannya. Baik sumbernya, komentar yang masuk, dsb.

    Saya rasa orang yang ngeblog soal lowongan kerja dan mesum-mesum itu tidak bermaksud untuk memutilasi makna blog. They’re just too cheap to make a website from scratch and host it on their own😛 Kenapa harus capek dan bayar kalau ada yang mudah, gratis, dan sudah di-SEO-kan?😉

    Er… budaya instan?

    Seperti komen saya untuk alex, mungkin mereka tidak melihat bahwa di ToS WP ada peraturan semacam ini:

    the downloading, copying and use of the Content will not infringe the proprietary rights, including but not limited to the copyright, patent, trademark or trade secret rights, of any third party;

    Ini:

    the Content is not spam, is not machine- or randomly-generated, and does not contain unethical or unwanted commercial content designed to drive traffic to third party sites or boost the search engine rankings of third party sites, or to further unlawful acts (such as phishing) or mislead recipients as to the source of the material (such as spoofing);

    Atau ini:

    the Content is not obscene, libelous or defamatory (more info on what that means), hateful or racially or ethnically objectionable, and does not violate the privacy or publicity rights of any third party;

    Dari tiga alasan itu saja, saya rasa sudah cukup untuk menuntut mereka yang menyebarkan berita foto sure™ para artis dengan alasan defamatory. Atau para penyebar lowongan pekerjaan seperti yang tercantum dalam ToS WP. Dan saya juga yakin hosting gratisan lainnya juga memiliki ToS yang hampir sama dengan WP.🙂
    @ t4rum4

    Pemikiran manusia pun akan menjadi lebih kompleks dalam bidang emosional. Dan anda tidak bisa menerka apa yang dipikirkan oleh saya ataupun orang lain.

    Tepat. Makanya saya minta baca dan pahami apa yang ingin saya sampaikan dalam post ini.

    Blog merupakan tulisan apa yang blogger lihat, rasakan, ketahui dan pahami. Kalau saya merasakan Ujian SNMPTN. Saya berhak untuk menuliskan tulisan tersebut. Jika saya mengetahui kunci jawaban SNMPTN, saya jelas2 berhak menuliskan tulisan tersebut. Yang paling buruk adalah TIDAK MERASAKAN TAPI MENULISKAN.

    Benar, Anda merasakannya, dan Anda berhak menulisnya. Tapi itu bukan berarti jawaban yang Anda tulis itu benar 100%. Ingat, kunci jawaban yang asli hanya ada di panitia SNMPTN.

    Ganesha Operation sudah bekerja sama dengan surat kabar Pikiran Rakyat. Jadi, sangat tidak mungkin IZI untuk menerbitkan teknik yang sama dan daerah yang sama pula.

    Tetap saja, itu kurang mendidik siswa. Siswa hanya tau jawabannya, tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Mungkin tidak perlu bekerja sama dengan surat kabar, tapi lewat pamflet yang disebarkan di tiap tempat ujian.

    Yah memang seperti itulah untuk memprediksikan hasil SNMPTN. Anda pikir untuk apa gunanya kunci jawaban tersebut? Untuk memberikan harapan untuk hari kedua? BETUL, memberikan harapan untuk hari kedua. Tapi yang salah dimengerti adalah HARAPANnya.

    Sebenarnya, saya hanya kasihan dengan siswa yang meminta jawaban ujian hari kedua sebelum ujian utama, dengan memberikan nomor handphone. Saya tidak mengatakan bahwa jawaban itu mungkin dikirim saat ujian. Bisa saja malam hari sebelum ujian atau pagi-pagi sekitar jam 4 pagi. Masih banyak kemungkinan yang bisa dipilih.
    @ Catshade (2)
    Nyaaa~~… makasih udah mau ngebantu sayaaa….:mrgreen:
    @

  21. P.S: Saya sudah tahu apa tujuan penyebar jawaban itu. Jadi saya bukannya salah tangkap.🙂

  22. t4rum4 says:

    Wew.. Saya tahu btul kok yg ngeluarin kunci jawabannya. Pengajarnya juga aq tahu kok.
    Ohyah. Pihak GO menampilkan jawaban + pembahasannya d korannya kok.😀. Bli ajah korannya. Syng ga ada kode tuk kota anda.😀
    utk yg ngasih no hpnya. Itu sih salah mereka. Btul?
    Wah bru kali ini nih komen serius. Hebat euy bwat tulisan n pilihan topiknya.

  23. Catshade says:

    Dari tiga alasan itu saja, saya rasa sudah cukup untuk menuntut mereka yang menyebarkan berita foto sure™ para artis dengan alasan defamatory. Atau para penyebar lowongan pekerjaan seperti yang tercantum dalam ToS WP. Dan saya juga yakin hosting gratisan lainnya juga memiliki ToS yang hampir sama dengan WP.

    Foto shoor? Saya setuju klo itu melanggar TOS. Tapi penyebar lowongan pekerjaan…saya agak kurang jelas. Bagian mananya ya yang melanggar TOS?😕

    Btw Pandu, menurut anda blog yang menyebarkan lirik lagu itu termasuk ngeblog yang baik (menurut standar anda, tentu saja) atau melanggar TOS WP.com gak?😀

  24. Memang benar bahwa blog itu tanpa otorisasi. Namanya saja media demokrasi. Tetapi saya juga berharap (tidak lebih) bahwa media blog ini membutuhkan standarisasi agar antinya blog tidak menjadi “HDD Online” itu.:mrgreen:

    Mungkin standar Blog di sana – sini memang beda. Dan ini bisa jadi hal yang sensitif. Berarti penekanan “peraturan tak tertulis” itu yang harusnya bermain di sini.😀

  25. @ t4rum4
    Er… maksud saya, teknik menyebarkan pembahasan soal lewat pamflet itu bisa dipakai oleh lembimjar lainnya selain GO.🙂
    @ Catshade
    Untuk lowongan pekerjaan, IMO, lebih pada copyright dan trademark dari para pemberi pekerjaan. Merekalah yang berhak menyebarkan lowongan pekerjaan dan merekalah yang berhak menutupnya kalau kuotanya sudah terpenuhi.

    Mungkin mereka juga bisa kena pasal kedua yang saya sebutkan sebagai “to drive traffic to third party sites”. Dan terkadang mereka juga melakukan tag-whoring demi ketenaran, seperti yang pernah dibahas Geddoe dulu.😐

    Btw Pandu, menurut anda blog yang menyebarkan lirik lagu itu termasuk ngeblog yang baik (menurut standar anda, tentu saja) atau melanggar TOS WP.com gak?😀

    Hm… Lemme see…
    Kalau dikaitkan dengan yang pertama, bisa dianggap melanggar. Tapi kalau dianggap, seperti definisi blog, hobi, maka itu tidak melanggar karena bisa saja mereka hobi menyanyi dan ingin berbagi lirik lagu dengan pembacanya. Saya sendiri sebelum publish lirik lagu biasanya saya sesuaikan dengan melodi lagunya dulu. Jadi biar nggak dianggap menjiplak mentah-mentah.

    Lagipula, lirik lagu yang orisinal hanya ada di pencipta lagunya, kan?😉

  26. @ Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Salah satu kelemahan bangsa Indonesia mungkin adanya budaya pamer. Dalam hal blogging, pamer trafik dan/atau hiasan blog adalah yang paling sering.

    Orang yang pamer hiasan blog akan mempermak blognya habis-habisan, berkelap-kelip, sehingga dia merasa bahwa blognya paling bagus. Tidak memedulikan pengunjung yang sakit mata gara-gara melihat asesori yang terlalu banyak. Dalam hal ini, biasanya dilakukan oleh pengguna Blogspot amatiran.

    Orang yang pamer trefik mungkin lebih parah lagi. Mereka mungkin akan menghalalkan pencurian asalkan mereka puas dengan trafik yang masuk. Mereka tidak peduli dengan yang namanya hak cipta, kreatif, dan semacamnya.

    Saya masih ingat ketika saya mengunjungi blog ini secara tidak sengaja, yang berujung kepada kampanye ini. Ironisnya, dia merekrut orang lain untuk copy-paste juga. Saya heran kalau blog-blog semacam ini tidak terkena jerat oleh kru Automattic.

    Ah, Indon… Indon…😐

  27. Btw, kalau dilihat secara fungsinya blog sebagai Content Management System, kayaknya beberapa blog juga digunakan sebagai media informasi berita (seperti fansite-fansite anime mungkin). Terutama kalau hosting sendiri, walau kayaknya yang numpang di WP juga ada.😀

  28. rei psycho says:

    Wadow..komennya panjang bgt mas

  29. Pingback: indonesianblogs « Deathlock

  30. Catshade says:

    @dnial:

    Belajar butuh proses… pendewasaan komunitas butuh proses…
    Masakan kita langsung protes kalau anak TK nggak bisa kerjasama dengan baik? kita harus paham, penyampahan adalah proses.

    Dulu awalnya kita juga nyampah to… (kita, elo kali)

    Mungkin awalnya lowongan kerjaan, cerita mesum dll…
    Tapi mungkin setelah itu mereka belajar (semoga), dan mulai ngeblog ke arah yang benar. Sesuai bimbingan para suhu yang di sini.

    Masalahnya, ‘pasar’ (dengan kata lain, para pembaca blog Indonesia) tidak memberikan mekanisme penghargaan dan hukuman yang setimpal (malah cenderung terbalik) terhadap para blogger. Seseorang yang ngeblog mengenai pendidikan atau tips-tips mengasuh anak mungkin cuma mendapat beberapa gelintir hits selama beberapa bulan, sementara mereka yang ‘ngeblog’ pornografi atau copy-paste bisa dapet puluhan ribu hits dalam satu hari saja.

    Tebak siapa yang bakal lebih termotivasi untuk lanjut ngeblog secara konsisten?
    Tebak siapa yang bakal mendapat keuntungan lebih banyak dari pemasangan iklan?
    Tebak siapa yang lebih berpeluang untuk mengasuh blognya secara lebih profesional dan menjadi blogger full-time?

    Apakah si blogger mesum akhirnya akan belajar untuk menulis sesuatu yang lebih berbobot dan berkualitas jika post-post mesumnya-lah yang lebih ‘dihargai’ dan diklik oleh lebih banyak orang?

    Dengan selera ‘baca’ pengguna internet Indonesia yang masih seperti itu, bayangkan berapa banyak calon-calon Priyadi/Ndoro Kakung/Jennie S. Bev yang telah kita kubur sampai saat ini?😕

    Rasanya dari atas belum ada yang menyinggung masalah ‘selera pasar’ atawa sisi ‘demand’-nya. Dan begitu kita berbicara mengenai bagaimana mendidik selera baca pengguna internet Indonesia, saya kira ujung-ujungnya akan ngomongin masalah pendidikan juga (yang menurut saya diskusinya udah seperti benang kusut).

  31. Taruma says:

    Klo pamflet kan dah dicomot idenya ma NF..
    Cara terakhir lewat internet..
    Yah, mungkin namanya juga COBA-COBA..
    Komennya panjang bener mas.. Tapi, keren lah. POKOK’E MAKNYUS…

  32. goldfriend says:

    Padahal apa untungnya pake WordPress kalau orientasinya hits ?😆 Dan itulah yang mungkin membuat saya betah di wordpress karena saya takut untuk tergoda “menggadaikan” apa yang di kepala saya dengan segepok hits dan duit yang didapat dari iklan jika memakai hosting sendiri.🙂

    *cuma pendapat pribadi*
    *hits saya cuma beberapa puluh/hari kok*😛

    Tapi yang kamu tulis itu adalah hal yang normatif dan idealis. Saya sendiri nggak bisa menyalahkan bloger lain kalau dia keluar dari pakem normatif dan idealismenya, tetapi setidaknya saya akan tetap di jalur ini : bahwa blog dalam pengertian pribadi adalah sesuatu yang normatif dan idealis seperti berbagi ilmu, mencari teman, dll.

    Dan saya tidak bisa memaksa mereka untuk memiliki idealisme seperti itu. Orientasi setiap orang ketika dia membuka blog itu berbeda.

    Mudah-mudahan seorang Pandu tetap di jalur ini ketika berhadapan dengan sesuatu yang lebih “menggoda”.🙂

  33. @ Xaliber von Reginhild
    Seperti ini, mungkin?😀
    @ Rei
    Nggak masalah, kan?
    @ Taruma
    Ya… kalau memang nggak ada jalan lain sih terpaksa. Tapi saya tetap merasa kasihan dengan mereka yang sudah memberi nomor hape mereka.
    @ goldfriend
    Iya, ya… di WordPress[dot]com kan nggak bisa dipasang adsense, flash, atau semacamnya. Jadi kenapa nyari trafik? Toh nggak akan dapat uang segerobak dari WP.😆

    BTW, saya sudah dibuatkan ibu saya subdomain buat kerja lewat internet. Semoga saya tetap apa adanya meskipun cobaan menghadang.🙂

  34. alex® says:

    @ p4ndu_454kura©

    Tidak harus, seharusnya. Kalau dilanggar, akibatnya ditanggung yang melanggar. Baik itu akibat baik maupun buruk.:mrgreen:

    Kata “seharusnya” itu memang mengedepankan makna “saran”, seperti “alangkah baiknya jika…”. Tapi sayang, saya menangkap makna lain ketika seseorang berkata, “Tulisan-tulisan yang ada di blog seharusnya berupa pengalaman pribadi dan beberapa hobi mereka.”. Mungkin saya salah, tapi dalam hal ini saya tidak pernah sepakat. Biarkan saja evolusi menemukan jalannya, bukankah demikian?😀

    Ya, saya tahu. Tapi mayoritas mereka melakukannya di hosting mereka sendiri, bukan di hosting gratis semacam WordPress[dot]com, Blogspot, dan yang lainnya. Ingat, bahwa kebanyakan blogger Indonesia jarang membaca ToS di hosting gratisan (termasuk saya), di ToS WordPress misalnya.🙂

    Lihat kata yang saya tebalkan?🙂

    Saya minta bukti “mayoritas” itu darimana dilihatnya? Statistiknya, mungkin? Kata “kebanyakan” itu juga generalisir yang persis seperti 68%™ pakar u-know-who sering gunakan. Nggak bisa dijadikan acuan utk justifikasi pendapat.

    Saya sudah bilang, saya sering menemukan konten blog luar yang (kurang-lebih) sama busuknya dengan kriteria “sampah” versi pandu itu.

    Saya nggak bikin standar, lho. Saya cuman melihat dari sudut pandang definisi yang ada. Saya sendiri juga kaget kalau definisinya seperti itu.

    Ya, saya tahu pandu sedang beropini. Itu bagusnya blogosphere, bahwa kita bisa memberikan definisi disertai apa yang seharusnya dilakukan utk mengikuti penyesuaian dengan definisi kita itu. I love this world😆

    Saya sendiri sama sekali nggak punya pengalaman maupun hobi yang berkaitan dengan, misalnya, tanaman pemakan serangga yang saya tulis waktu pertama kali ngeblog atau tentang siapa yang sebenarnya menemukan benua Australia. Murni hanya ingin berbagi.😛

    That’s not a big deal, boy. It’s okey with me. Now… are you okay with those blogger out there? You gotta deal with that too🙂

    Ouwhh.. by the way, blogger-blogger itu juga sepertinya bisa mengatakan bahwa mereka ingin berbagi, meski cuma tulisan berbau sperma dari postingan bokep. Ada banyak selera pasar di dunia digital yang nyaris tanpa hamba dan tuan ini:mrgreen:

    Harap dipahami, saya bukan membela mereka. Saya sendiri, personally, tidak menyukai tipe-tipe blog demikian. Sejujurnya, saya memiliki kosakata lebih najis dari sekedar kata “sampah” utk menghakimi blog demikian. Sayangnya, saya tidak merasa diri saya seleb blog atau blogger berkualitas tinggi utk bisa mempublikasikan mencak-mencak saya akan hal itu. Saya tdak mau seperti dosen satu kampus negeri yang cukup tenar dan kemarin tu sempat misuh-misuh karena blog para selebriti tidak sesuai standarnya dan disebutnya “menye-menye”, sementara postingannya sendiri sama “menye-menye”.

    Ya, saya tidak suka dengan blog-blog tersebut, tapi saya tidak suka jika hak mereka (sepanjang tanpa pemaksaan) mesti diharus-haruskan dengan definisi saya sendiri. Toh, kalau melanggar, akibatnya juga akan ditanggung oleh yang melanggar itu sendiri, bukan?😀

    @ Catshade

    Saya setuju kalau dibilang tidak ada otoritas dalam ngeblog (which is what makes all the discussions seem futile and useless karena gak ada tindak lanjutnya), tapi saya juga nggak setuju kalau itu diartikan kita boleh ngeblog sebebas-bebasnya, suka-suka kita.

    Saya juga tidak setuju. Tapi saya tidak suka bahwa dengan ide ketidak-setujuan saya itu, lalu saya boleh memvonis sembarang blog yang tidak sesuai dengan definisi saya atau dengan kriteria blog pujaan hati-rembulan mimpi-jantung pisang-idaman diri… bla bla bla yang saya kultuskan😀

    Bagi saya, blog (yang bukan dikunci secara privat) itu adalah ranah publik, bukan ranah pribadi. Blog punya kekuatan potensial yang besar untuk mengubah masyarakat, dan karena itu pulalah kita juga punya tanggung jawab yang besar terhadap seluruh calon pembaca blog kita.

    Hmm… apa kita tidak menjadi seperti umat-umat yang memandang ngeri dengan kasus-kasus pembahasan agama di blog yang dirasanya berbahaya terhadap dogma? Bukankah dengan alasan tanggung-jawab terhadap pembaca blog pula para pemrotes memprotes?😛

    Nah, berhubung tidak ada otoritas dalam ngeblog, lalu siapa yang menentukan tanggung jawab seorang blogger? Dalam hal ini, saya mengamini apa kata Goenawan Mohamad ketika ditanya mengenai siapa yang menentukan pesan moral dalam sebuah karya sastra, “hati nuranimu sendiri.” Jadi ya kita bisa melihat sendiri siapa blogger yang nggak punya hati nurani…

    Aduh… “hati nuranimu sendiri” itu terlalu naif, IMHO. Jujur saja, saya menganggap kriteria dan pandangan Pandu di sini juga cukup naif. Memilah antara yang bagus dan baik dengan selera sendiri. Sebatas opini its okay, tapi dengan stempel? C’mon…, saya juga tidak menyukai sejumlah blog yang saya fatwakan najis utk diri saya sendiri, tapi saya tidak mau mengatakan ke publik hanya dengan rasa ketidak-cocokan itu. Biarkan saja, kritik di blognya itu sendiri kalo memang sudah tak tertahankan. Another way? Submit report, seperti yang saya sendiri lakukan saat melihat blog porno muncul di BOTD dan memberi “Report as mature”. Tidak lebih dari itu:mrgreen:

    Kritikan pandu di sini bagus, but… don’t go too far… Setiap orang punya alasan, dan alasan tersebut tidak harus cocok dengan kita🙂

    Errr….

    Dengan selera ‘baca’ pengguna internet Indonesia yang masih seperti itu, bayangkan berapa banyak calon-calon Priyadi/Ndoro Kakung/Jennie S. Bev yang telah kita kubur sampai saat ini?😕

    Ya, mereka blogger-blogger bagus. I gotta admit it. Tapi, apa menjadi blogger berkualitas mesti berstandar pada 1-2-3 blogger? No offense:mrgreen:

    Ebuset! Jadi ngeblog di sini?😯

    *ditendang pandu*😆

  35. saKuZo says:

    uweee… komen panjang lebar dari orang-orang pintar semua.. waaaahh… blog aku gada apa-apanya, saiia msh newbie, jarang nge-upadate blog, masih belajar cara-cara nge-blog yang baik, tapi sepertinya blog ak g msk kategori yg ntu dh🙂

  36. Wadoh, ada yang terlewat.😛
    @ Catshade

    Masalahnya, ‘pasar’ (dengan kata lain, para pembaca blog Indonesia) tidak memberikan mekanisme penghargaan dan hukuman yang setimpal (malah cenderung terbalik) terhadap para blogger. Seseorang yang ngeblog mengenai pendidikan atau tips-tips mengasuh anak mungkin cuma mendapat beberapa gelintir hits selama beberapa bulan, sementara mereka yang ‘ngeblog’ pornografi atau copy-paste bisa dapet puluhan ribu hits dalam satu hari saja.

    Mungkin ini berkaitan dengan pola pikir seseorang. Orang yang kurang menghargai ilmu dan lebih mementingkan kesenangan akan segera pergi dari blog-penuh-tulisan-nan-panjang-dan-membosankan dan pergi ke blog-yang-penuh-tulisan-“menyenangkan”-dan-“membangkitkan-semangat”.

    Rasanya dari atas belum ada yang menyinggung masalah ’selera pasar’ atawa sisi ‘demand’-nya. Dan begitu kita berbicara mengenai bagaimana mendidik selera baca pengguna internet Indonesia, saya kira ujung-ujungnya akan ngomongin masalah pendidikan juga (yang menurut saya diskusinya udah seperti benang kusut).

    Yep, ujung-ujungnya sering ke pendidikan sang konsumen.😛
    @ alex®

    Mungkin saya salah, tapi dalam hal ini saya tidak pernah sepakat. Biarkan saja evolusi menemukan jalannya, bukankah demikian?😀

    Tetapi evolusi pun tidak akan menemukan jalannya kalau tidak ada faktor pendorongnya, bukan?:mrgreen:

    Saya minta bukti “mayoritas” itu darimana dilihatnya? Statistiknya, mungkin? Kata “kebanyakan” itu juga generalisir yang persis seperti 68%™ pakar u-know-who sering gunakan. Nggak bisa dijadikan acuan utk justifikasi pendapat.

    Saya gugling guling-guling dengan keyword ini. Dan mayoritas yang saya maksud adalah mereka yang hosting pribadi, lebih banyak daripada yang menumpang di hosting gratisan. Tentu saja terbatas hanya yang bisa dilacak oleh search engine.🙂

    That’s not a big deal, boy. It’s okey with me. Now… are you okay with those blogger out there? You gotta deal with that too🙂

    Of course, I’m allright with that.🙂

    Ouwhh.. by the way, blogger-blogger itu juga sepertinya bisa mengatakan bahwa mereka ingin berbagi, meski cuma tulisan berbau sperma dari postingan bokep. Ada banyak selera pasar di dunia digital yang nyaris tanpa hamba dan tuan ini:mrgreen:

    Makanya, saya memberikan solusi untuk menulisnya di forum-forum yang memang bertema demikian, atau mengirimkan tulisan mereka ke situs-situs penyedia layanan porno. Toh saat ini banyak situs yang membuka kesempatan bagi pengunjungnya untuk ikut berpartisipasi.😉

    Saya tdak mau seperti dosen satu kampus negeri yang cukup tenar dan kemarin tu sempat misuh-misuh karena blog para selebriti tidak sesuai standarnya dan disebutnya “menye-menye”, sementara postingannya sendiri sama “menye-menye”.

    Siapa? Sang pakar™?😕
    @ saKuZo
    Lho, blogmu kan isinya banyak yang curhatan, so it’s still okay.😀

  37. Catshade says:

    @alex:

    Tapi saya tidak suka bahwa dengan ide ketidak-setujuan saya itu, lalu saya boleh memvonis sembarang blog yang tidak sesuai dengan definisi saya…

    Sebatas opini its okay, tapi dengan stempel?

    Tolong katakan kepada saya, bung Alex, apakah ada tulisan saya atau Pandu di atas yang memvonis atau menstempel sembarang blog? Tolong dikutip kalau ada biar kami tahu yang mana.

    Dan tolong beri saya pencerahan juga (dengan contoh kalau perlu, saya agak bodoh dalam hal ini), apa yang membuat “sebatas opini” itu berbeda dari “opini dengan stempel” atau “opini plus vonis”?

    Saya sendiri melihat perbedaan “opini” kami dengan “opini” anda tidak jauh-jauh amat. Anda sendiri mengakui tidak suka dengan blog-blog ‘najis’ itu. Bedanya hanya kami mempublikasikan “opini” kami dan mempersuasi pembaca untuk ikut setuju, sementara anda hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Apa itu yang anda maksud dengan “vonis” dan “stempel”?

    Btw, kalau anda takut kena karma seperti Budi Raharjo itu (ya Pandu, dia yang bung Alex maksud), saya tahu blog anda kualitasnya jauh di atas kategori blog-blog ‘meragukan’ yang disebut Pandu.

    Hmm… apa kita tidak menjadi seperti umat-umat yang memandang ngeri dengan kasus-kasus pembahasan agama di blog yang dirasanya berbahaya terhadap dogma? Bukankah dengan alasan tanggung-jawab terhadap pembaca blog pula para pemrotes memprotes?

    Yep, kita memang menjadi seperti itu. Mungkin bedanya adalah kita bisa lebih fleksibel dan rasional dalam berdiskusi, sementara diskusi mereka kayaknya tidak begitu lancar karena lebih banyak berlandaskan iman serta ayat dan tafsirnya.

    Aduh… “hati nuranimu sendiri” itu terlalu naif, IMHO. Jujur saja, saya menganggap kriteria dan pandangan Pandu di sini juga cukup naif. Memilah antara yang bagus dan baik dengan selera sendiri. Sebatas opini its okay, tapi dengan stempel? C’mon…, saya juga tidak menyukai sejumlah blog yang saya fatwakan najis utk diri saya sendiri, tapi saya tidak mau mengatakan ke publik hanya dengan rasa ketidak-cocokan itu. Biarkan saja, kritik di blognya itu sendiri kalo memang sudah tak tertahankan. Another way? Submit report, seperti yang saya sendiri lakukan saat melihat blog porno muncul di BOTD dan memberi “Report as mature”. Tidak lebih dari itu:mrgreen:

    Kritikan pandu di sini bagus, but… don’t go too far… Setiap orang punya alasan, dan alasan tersebut tidak harus cocok dengan kita

    So now we’re naive because we voice our concern? C’mon, kok sekarang saya merasa andalah yang memberi “vonis” dan “stempel” pada saya dan Pandu. Jadi supaya tidak naif lagi (padahal saya suka Naif lho), sebaiknya kami cenderung diam saja, begitukah yang bung Alex maksud? Apakah menyuarakan opini yang naif semacam itu yang anda anggap “going too far”?

    Dengan segala hormat kepada opini anda, bung Alex, saya percaya bahwa satu-satunya cara untuk menguji benar/salah atau bagus/buruknya opini kita adalah dengan menyuarakannya (dengan segala risikonya) dan mendapat umpan balik, not by being silent and unchallenged. Coba kalau pandu tidak menulis ini atau saya tidak berkomentar, kan kami tidak tahu kalau pandangan kami itu ternyata naif.😉😉😉

    Dan btw bung Alex, bukankah dari tadi anda sudah mempublikasikan opini anda sendiri (mengenai ketidaksukaan pada blog-blog najis itu)? ^^;

    Btw lagi, saya minta maaf kalau saya jadi terkesan agresif. Agak sedikit terlalu bersemangat saja, soalnya sudah lama saya nggak berdebat terbuka panjang lebar begini ^^;

  38. alex® says:

    @ Catshade

    Tolong katakan kepada saya, bung Alex, apakah ada tulisan saya atau Pandu di atas yang memvonis atau menstempel sembarang blog? Tolong dikutip kalau ada biar kami tahu yang mana.

    Hmm… Di komennya Catshade, saya tidak melihat pemberian stempel demikian atau vonis. Tidak langsung pada blog tertentu. Tapi beberapa link yang ada di postingan itu, apa tidak memberi “pengesanan” bahwa blog-blog demikian adalah blog yang dirujuk adalah “blog yang tidak baik” ?

    Dan tolong beri saya pencerahan juga (dengan contoh kalau perlu, saya agak bodoh dalam hal ini), apa yang membuat “sebatas opini” itu berbeda dari “opini dengan stempel” atau “opini plus vonis”?

    Bagi saya, batasan beropini itu adalah ketika tidak spesifik mencantumkan perbandingan antar blog dengan memberi tautan lalu membandingkan dengan blog-blog yang kita anggap best of the best. Setiap orang memiliki ukuran kualitasnya sendiri. Bagi saya, biarkan saja mengalir. Mengkritik adalah kebutuhan, tapi bukankah tidak mesti memberi keharusan. Ya, saya tahu ini opininya Pandu, dan saya mentoleransi karena yang di sini cuma sebatas opini masih, belum seperti kasus orang yang saya maksudkan itu.

    Saya sendiri melihat perbedaan “opini” kami dengan “opini” anda tidak jauh-jauh amat. Anda sendiri mengakui tidak suka dengan blog-blog ‘najis’ itu. Bedanya hanya kami mempublikasikan “opini” kami dan mempersuasi pembaca untuk ikut setuju, sementara anda hanya menyimpannya untuk diri sendiri. Apa itu yang anda maksud dengan “vonis” dan “stempel”?

    Ya. Opini saya, catshade dan pandu secara garis besar sama. Tapi saya lebih memilih untuk mendatangi blog yang bersangkutan jika saya ingin mengkritik. Cara yang berbeda, yang membuat cara pandangnya jadi berbeda.

    Apa itu yang saya maksudkan dengan stempel? Bisa ya bisa tidak. Ya, jika standar kualitas yang didefinisikan demikian, lalu blog-blog lain menjadi terkategorikan sebagai sampah. Sampah atau tidak, saya kira tolok ukurnya terlalu sempit jika menurut persepsi kita. Misal, bagi mereka yang memang membutuhkan update AVG, bisa jadi blog yang memberi tautan update tersebut bukan sampah.

    Btw, kalau anda takut kena karma seperti Budi Raharjo itu (ya Pandu, dia yang bung Alex maksud), saya tahu blog anda kualitasnya jauh di atas kategori blog-blog ‘meragukan’ yang disebut Pandu.

    😆

    Ya, memang beliau yang saya maksudkan:mrgreen:

    Betewe, saya tidak pernah merasa, sampai saat ini, bahwa blog saya sedemikian jauh berkualitas. Justru karena sama-sama gelandangan di blogosphere yang tidak masuk jajaran selebriti, saya mencoba toleran dengan mereka. Butuh proses utk dewasa, demikian pula blog.

    Yep, kita memang menjadi seperti itu. Mungkin bedanya adalah kita bisa lebih fleksibel dan rasional dalam berdiskusi, sementara diskusi mereka kayaknya tidak begitu lancar karena lebih banyak berlandaskan iman serta ayat dan tafsirnya.

    IMHO, Iman, ayat dan tafsir itu bisa muncul dalam bentuk lain di ranah blogosphere ini. Misal saja, jika saya mendefinisikan apa itu blog berdasarkan referensi saya sendiri, dan lalu membuat keharusan bagi blog-blog lain utk mengikuti referensi itu, tanpa memberi peluang mereka berkembang, apa saya tidak menjadi bigot atau malah bentuk lain dari despotism dalam hal ini?😕

    Saya cuma memberikan pendapat saya agar hal demikian tidak sampai terjadi.

    So now we’re naive because we voice our concern? C’mon, kok sekarang saya merasa andalah yang memberi “vonis” dan “stempel” pada saya dan Pandu.

    Ya. Penyuaraan saya pada peluang blog-blog utk terkembang juga merupakan kenaifan tersendiri yang sama. Apa saya memberi vonis? Saya minta maaf jika demikian yang terasa, meski saya bisa berdalih bahwa ini juga kritik🙂

    Tidak, saya tidak memaksudkan untuk memberi vonis. Tapi, well… bukankah persepsi masing-masing yang menentukan penilaian? Saya menilai ada gejala vonis di sini, demikian pula penilaian saya bisa dinilai sebagai vonis pula.

    Jadi supaya tidak naif lagi (padahal saya suka Naif lho), sebaiknya kami cenderung diam saja, begitukah yang bung Alex maksud? Apakah menyuarakan opini yang naif semacam itu yang anda anggap “going too far”?

    Ya, saya juga suka naif (secara band, literal atau harfiah). Apa harus diam? Tidak. Suarakan, kritiki, siapa yang akan bisa menahan? Cuma, apa kritik juga tidak bisa dikritiki, menjadi pertanyaan lain di sini. Pandu dan saya dan anda dalam sejumlah hal sama resahnya dengan gejala-gejala yang dimunculkan blog-blog yang, uhmm… tidak berkualitas bagus di mata pribadi tertentu. Tapi saya juga mengkhawatirkan gejala bahwa penentuan standar kualitas-tidak berkualitas ini, cuma menciptakan altar pemujaan yang mengacu pada kultus individu (dengan memberi sampel yang seharusnya diikuti atau dikuatirkan tidak akan lahir lagi). Ini yang membuat saya menolak. Dengan respek pada sampel seperti Priyadi, Ndoro Kangkung dll, saya harus katakan bahwa saya justru tidak memiliki hasrat utk melihat duplikasi dengan standar blogger-blogger tertentu mewujud di ranah blogosphere ini🙂

    Dengan segala hormat kepada opini anda, bung Alex, saya percaya bahwa satu-satunya cara untuk menguji benar/salah atau bagus/buruknya opini kita adalah dengan menyuarakannya (dengan segala risikonya) dan mendapat umpan balik, not by being silent and unchallenged. Coba kalau pandu tidak menulis ini atau saya tidak berkomentar, kan kami tidak tahu kalau pandangan kami itu ternyata naif.😉😉😉

    Dengan segala hormat pada opini anda pula, maka saya juga percaya bahwa terkadang opini yang disuarakan jika tidak disahuti dengan opini lain sebagai counter atau penyeimbang, maka opini-opini tersebut akan menjadi mainstream tersendiri yang akan menyeret beberapa kali perulangan kejadian yang sama di ranah blogosphere. Saya masih ingat sampai saat ini betapa kritik tentang kupipes dalam ranah blogosphere pernah menjadi ajang penghakiman pada seorang siswi SMU yang masih lugu dalam ngeblog lalu ikut dalam sebuah blog festival. Dan itu muncul dari opini-opini, yang saya tidak ingin yang demikian terulang lagi.

    Dan btw bung Alex, bukankah dari tadi anda sudah mempublikasikan opini anda sendiri (mengenai ketidaksukaan pada blog-blog najis itu)? ^^;

    Ya, benar😀

    Tapi apa saya eksplisit mencantumkan taut? Apa saya menuliskan tautan ke blog-blog tersebut? Apa itu tidak sama dengan saya mengatakan, “Ini lho alamat rumah orang yang… yeahh… agak-agak sampahlah tulisannya…” ??🙂

    Btw lagi, saya minta maaf kalau saya jadi terkesan agresif. Agak sedikit terlalu bersemangat saja, soalnya sudah lama saya nggak berdebat terbuka panjang lebar begini ^^;

    Saya juga minta maaf karena melibatkan diri dengan berkesan agresif. Saya juga bersemangat kalau melihat pendefinisian keharusan muncul di ranah blogosphere😀

  39. alex® says:

    Betewe… meski seperti paranoia, saya cuma tidak mau arus pengharusan nantinya mengarah pada model si anti kristus ini, yang membelah blog menurut persepsinya sendiri.

    Ah, saya jadi ikut mencantumkan link pula ini😛

  40. leksa says:

    mau ngeblog aja kok repot…

  41. Mad Max says:

    *komen satir*
    halah, sampeyan ini gimana to? Blog Aing, ya kumaha Aing lah!
    wakakakakak😆
    keknya fenomena blog akan bertumbuh pesat layaknya prenster aja nih….

  42. blog saya adalah diri saya.
    ungkapan hati…
    cerminan jiwa.

    beda dengan Friendster
    karena itu saya meninggalkan Friendster:mrgreen:

    – – –
    Making my way downtown. Walking fast. Faces pass. And I’m home bound…

  43. shei says:

    Awww..
    begitukah..
    kalo saia sih, Blog pokoknya bisa menuang aspirasi dan media curhat..🙂
    gud thought, Ndu🙂

  44. frozenx says:

    wah jujur baru tau definisi blog secara “resmi”. Sebelumnya masih samar-samar. Tapi sebagian besar setuju sih sama pemikirin mas pandu. Walaupun kadang-kadang kalo ada joke yang lucu, unik & baru banget saia kupipes juga tuh kayak ini: http://frozenxcode.wordpress.com/2008/07/10/jokenew-digital-based-religionexavoltism/😀

  45. @ Catshade

    Btw, kalau anda takut kena karma seperti Budi Raharjo itu (ya Pandu, dia yang bung Alex maksud),

    Wah, saya jarang ke blognya paka Rahard akhir-akhir ini. Jadi saya nggak tahu kalau ada isu itu.😛

    Btw lagi, saya minta maaf kalau saya jadi terkesan agresif. Agak sedikit terlalu bersemangat saja, soalnya sudah lama saya nggak berdebat terbuka panjang lebar begini ^^;

    Nggak apa-apa… nggak apa-apa…
    Saya juga sudah kangen diskusi panjang x lebar=luas seperti ini.:mrgreen:
    @ alex®

    Hmm… Di komennya Catshade, saya tidak melihat pemberian stempel demikian atau vonis. Tidak langsung pada blog tertentu. Tapi beberapa link yang ada di postingan itu, apa tidak memberi “pengesanan” bahwa blog-blog demikian adalah blog yang dirujuk adalah “blog yang tidak baik” ?

    Saya memberi link-link itu hanya menunjukkan bahwa blog-blog semacam itu memang ada (khusus pembaca di luar lingkup WP yang tidak tahu isi BOTD), jadi supaya tidak dikira hoax.

    Betewe, saya tidak pernah merasa, sampai saat ini, bahwa blog saya sedemikian jauh berkualitas. Justru karena sama-sama gelandangan di blogosphere yang tidak masuk jajaran selebriti, saya mencoba toleran dengan mereka. Butuh proses utk dewasa, demikian pula blog.

    WordPress ini, IMO, sama seperti negara ini. Pengisi lowongan di BOTD sebagai anggota MPR, sedangkan kita hanya sebagai rakyat biasa. Sebagai rakyat, tentunya kita juga berhak menyuarakan aspirasi ketika pemimpin kita “sedikit” menyimpang, kan?

    Saya masih ingat sampai saat ini betapa kritik tentang kupipes dalam ranah blogosphere pernah menjadi ajang penghakiman pada seorang siswi SMU yang masih lugu dalam ngeblog lalu ikut dalam sebuah blog festival. Dan itu muncul dari opini-opini, yang saya tidak ingin yang demikian terulang lagi.

    Maaf, saya mengikuti lomba itu, dan saya tidak punya maksud apapun selain memberikan fakta-fakta yang ada. Saya hanya sebal, karena dia mengikutkan blog yang penuh cp itu ke sebuah lomba, dan dia menjadi pemenangnya. Saya juga tidak menyangka efek dari hal itu jadi berantai, karena saya tidak menghendaki adanya hujatan-hujatan yang seperti itu.

    Tapi sudahlah, yang penting dia sudah mau meminta maaf dan saya rasa itu sudah cukup buat saya.

    Betewe… meski seperti paranoia, saya cuma tidak mau arus pengharusan nantinya mengarah pada model si anti kristus ini, yang membelah blog menurut persepsinya sendiri.

    Yah, kalau dia sih sepertinya dia belum membaca halaman about dari blog-blog yang dia link, atau dia belum tahu kalau itu tulisan bernada satir.😛
    @ leksa
    [satire]
    Mangkanya™, kan tinggal klik Sign Up, isi data, dan ndak usah baca ToS yang panjang itu. Kan terserah kita blognya mau diisi apa.
    [/satire]
    @ Mad Max
    Fenomena blog? Ah, topik yang menarik, tuh.
    Coba saya bikin dulu post-nya.🙂
    @ ghaniarasyid™
    Blog memang jauh lebih baik dari FS. Emang, gunanya FS apa sih?
    @ shei
    Blog saya adalah dunia saya.
    Mengunjungi blog saya berarti memasuki dunia saya… ^^
    @ frozenx
    Sebenarnya ini bukan definisi yang resmi, sih. Cuman berdasarkan aplikasi kamus di PC. ^^a

  46. sagung says:

    Waduuuuh………..

    Lha isi blog saya apa??
    Smuanya saya isi ke Blog saya alias sa’karepe dewe.

  47. Jadi tertegun, dan mikir.

    Jujur aja, saya belum pernah nemu blog yang isinya lowongan kerja, kunci jawaban SNM-PTN (sebagai peserta tahun ini, ga punya waktu buat nge-net untuk beberapa lama T_T). Dan sebagai orang yang tergolong baru di dunia blog, saya juga masih suka nyampah ga penting di postingan saya. Cerita seenak udel, he he he.

    Tujuan awal saya bikin blog emang supaya bisa tetep keep contact sama temen-temen selulus dari SMA, tetep bisa tau cerita satu sama lain setelah ga satu daerah lagi. Saya pikir ini lebih berguna daripada friendster (^^). Tapi lama-lama jadi mikir, ga seru amat kalo cuma cerita pengalaman pribadi. Akhirnya lama-lama mulai nge-post resensi film atau buku yang baru ditonton, puisi-puisi yang mendekam sekian lama di hardisk, pikiran-pikiran dan ide-ide, sama hal-hal baru yang saya dapat, biarpun tetep aja lebih banyak curhat dan ngisi lirik lagu yang lagi disuka. ^^

    Satu hal yang saya sadari, blog itu buat saya sebagai sarana menulis, buat ngembangin kemampuan, sebagai media belajar mengungkapkan sesuatu supaya menarik dibaca, itung-itung latihan buat mewujudkan obsesi menjadi penulis… ^^

  48. amin says:

    wah mas emang bener yang namanya blog tu bisa bikin qt seneng bwt mengisi aktifitas kita..
    jadi jangan ampe ketinggalan ya..
    ayo semuanya buat blog pribadi..

  49. dana says:

    Tulisan yang bagus. Membuat saya berpikir ulang.😀

  50. Pingback: Tersesat « Insan Perubahan

  51. anggavantyo says:

    posting panjang, komen panjang.. hehehe.. nice blog! mau tukar link?

  52. yah namanya juga masyarakat indonesia ….😀

    bnyak kan yg salah kaprah !?!??!

    ayo… kita kembalikan blog ke posisi semula ….

    klo yg saya tau blog asal muasalnya dari weblog… yang artinya log dari sebuah web ….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s