Kunjungan ke Desa Satak (Travel Story #2)

Last Update: Oktober 2nd, 2007, 7.52 pm

Pada hari Rabu tanggal 10 Oktober 2007, saya, ibu, dan beberapa saudara saya melakukan “wisata” ke Desa Satak, tempat ibu saya tinggal semasa kecil. Kami memulai perjalanan pada pukul 09.00, dengan menggunakan 5 sepeda motor. Yang ikut dalam perjalanan itu antara lain saya, adik, ibu, kakek, beberapa saudara sepupu, serta seorang teman.

Awalnya, kami melewati jalan raya Pare-Wates yang terletak di depan rumah kakek. Saat akan melewati pasar Dermo, kami terpaksa memutar karena pasar tersebut rupanya meluber sampai menghabiskan badan jalan sebagai efek menjelang lebaran. Akhirnya kami memutuskan untuk melewati jalan yang sedikit memutar.

Setelah memutari pasar Dermo, kami mengikuti jalan menanjak ke arah timur yang cukup panjang, sekitar 20 menit. Setelah itu, kami memasuki wilayah PTP 23 yang di kanan dan kiri jalan dipenuhi kebun coklat yang sebagian pohonnya berbuah, bahkan ada juga yang masak. Hmmm… pengin metik dan makan buahnya deh, untung ingat kalau masih puasa. Sepuluh menit kemudian, kami berbelok ke sebuah jalan tanah yang cukup besar.

Sekitar 10 menit kemudian, kami melewati sungai jalur lahar dari Gunung Kelud yang lebarnya kurang lebih sekitar 150 meter dengan kedalaman sekitar 10 meter. Di sana, kami menyempatkan diri untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang sangat indah dengan background puncak Kelud.

Sebenarnya saya berniat mengabadikan pemandangan tersebut. Tetapi apa daya, baterai kamera habis sehingga saya terpaksa tidak bisa menunjukkan keindahannya kepada Anda. Setelah merasa puas kami melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 10 menit kemudian, kami sampai di tempat tujuan.

Desa Satak merupakan sebuah desa kecil di tengah perkebunan kopi yang secara diagonal terletak sekitar 6-7 km dari puncak Gunung Kelud. Di sana, terdapat pabrik kopi peninggalan jaman Belanda. Konon, kopi robusta produksi Satak merupakan salah satu kopi paling mahal di dunia, yang langsung dipasarkan di Bursa Kopi Bremen, Jerman.

Di tempat itu kami beristirahat kompleks TK dan SD tempat ibu saya dulu mencari ilmu, yang bersebelahan dengan pabrik kopi. Di sana ada pohon bolu raksasa yang akarnya menonjol mengitari pohon sampai setinggi manusia dewasa, yang oleh ibu dan kawan-kawannya dulu dijadikan tempat untuk adu tangkas berkejar-kejaran.

Masyarakat di sana tampak melakukan aktivitas seperti biasanya. Mereka tidak terlalu khawatir dengan keadaan Gunung Kelud yang nyaris meletus.

Bicara tentang letusan Gunung Kelud, pada waktu ibu berusia sekitar 7 tahun (tahun 1970-an), gunung itu pernah “setengah” meletus. Menurut penuturan ibu, waktu itu sering terjadi gempa bumi. Selama beberapa hari percikan-percikan api terlihat keluar dari puncak Kelud, disertai suara gemuruh seperti geledeg. Siang-malam. Pernah, bahkan, pada suatu malam sekitar pukul dua dinihari seluruh warga dibangunkan dan disuruh mengungsi. Beberapa buah truk dalam kondisi mesin hidup sudah siap mengangkut. Konon Gunung Kelud sudah hampir benar-benar meletus. Bahayanya bagi penduduk Satak jika letusan benar-benar terjadi adalah adanya hujan pasir/kerikil dan terkena luberan lahar.

Akan tetapi, rupanya Tuhan berkehendak lain. Malam itu Gunung Kelud tidak jadi meletus, bahkan kondisinya semakin menurun dari hari ke hari.

Kembali pada kunjungan kami di Desa Satak. Di sana, kami mengunjungi rumah ibu saya sewaktu kecil. Sebuah rumah berdinding kayu, bercat putih, dengan taman kecil dan pohon kelapa gading yang dulu ditanam kakek di halaman. Kami juga menyempatkan mengunjungi guru tari ibu saya waktu SD. Setelah berkunjung sekitar 20 menit, kami pamit pulang.

About Reinhart

Don't wait. The time will never be just right.
This entry was posted in Live Journal, My Galleries, My Interest. Bookmark the permalink.

11 Responses to Kunjungan ke Desa Satak (Travel Story #2)

  1. aRuL says:

    hetrikz pertamax di blognya pandu, hehehe

  2. epa says:

    Aku kok g’ di ajak seh…..:((

  3. Pingback: And The Holiday Begins… (Travel Story #1) « Pandu Gilas Anarkhi

  4. @ aRuL
    Buset, pertamax tiga kali.😐
    @ epa
    Soalnya ga dihubungi, sih…:mrgreen:

  5. agn says:

    wadoh, gw dr rindu pengen banget berkunjung ke desa-desa.. dulu pas Bandung masih desa (hehehehe, at least kampung ibu gw yg dipinggir bandung masih desa waktu itu) gw selalu bisa mendengar suara sepi dan jengkrik tiap malem. Dulu ada sawahh yg luass dan lapangan besar di rumah kakek gw selalu seru pas hujan. Sekarang sawahnya jadi perumahan dan lapangan besar jadi GARDU PLN segeda naga… serem juga kalo dipikir2….

    salam kenal bro! nice blog!

  6. evelyn pratiwi yusuf says:

    Wow, gunung Kelud?
    Ih apa nggak takut kalau lewat kesana saat sekarang ini?
    Kalau aku sih takut, ntar pas lewat meletuh jadi gosong deh. HIkz….

  7. benbego says:

    harusnya gunung kelud dikasi diapet tuh..biar mampet!😀

  8. Pingback: Trenggalek, Kota Berpagar Gunung (Travel Story #3) « Pandu Gilas Anarkhi

  9. @ agn
    Wah, seru sekali!
    Salam kenal juga.😀
    @ evelyn pratiwi yusuf
    Waktu itu statusnya masih Siaga. Kalo sekarang sih ga mungkin.:mrgreen:
    @ benbego
    Ah, bagus tuh.😆

  10. Arie says:

    Sapa nama ibumu.??? Q juga anak desa satak

  11. Christine says:

    Hai Pandu, siapa nama ibumu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s